PEKANBARU, (NV) — Kunjungan Pelayanan Ephorus BNKP, Pdt. Otoriteit Dakhi, S.Th, M.Si di Gedung Gereja BNKP Pekanbaru Resort 57, tepatnya di Jalan Karya, Desa Tanah Merah, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Rabu, (09/04/2025), Pukul 10.30 WIB.
Dalam pertemuan BPHMS BNKP Ephorus dengan BPMR BNKP Jema’at Pekanbaru Resort 57 tersebut, dihadiri berbagai unsur seperti BPMJ, Pendeta, Vikar, SNK, Majelis, Diakonia dan Warga Jema’at BNKP dengan peserta kurang lebih sekitar 45 orang.
Sesuai dengan pemaparan pihak pembawa Acara dan atau Moderator, bahwa Misi kedatangan Ephorus yang merupakan Pemimpin Tertinggi BNKP, adalah murni Kunjungan Pelayanan.
Namun, pantauan Warga Jema’at dalam pertemuan itu, justeru membahas tentang Pemekaran Resort. Pemekaran ini diduga diinisiasi oleh beberapa oknum yang hendak mengelabui warga Jema’at.
Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi sejumlah warga Jema’at, karena wacana Pemekaran tidak melibatkan warga Jema’at serta tidak melakukan Sosialisasi kepada keseluruhan warga Jema’at melalui pertemuan dan pengumuman di Gereja hingga sosialisasi di masing-masing Lingkungan melalui SNK.
Sedangkan isu miring yang terjadi di Gereja BNKP Resort 57, terkait dengan status Surat kepemilikan Lahan/Tanah Gedung Gereja, Nominal Dana Kas Gereja dan atau Bukti Rekening Koran, Pemasangan Kanopi yang diduga telah melewati batas atau mengambil sebagian Tanah Fasilitasi Umum (Fasum) dan Laporan Keuangan lainnya yang sampai saat ini belum terjawab oleh BPMJ.
Persoalan ini sudah menjadi polemik serius antara warga Jema’at dengan pihak BPMJ, Pendeta dan SNK lainnya. Bahkan, akibat persoalan Pelayanan yang tidak memuaskan warga Jema’at, justeru para oknum yang tidak bertanggung jawab melaporkan salah satu warga Jema’at dan atau SNK, Triput Arisman alias Ama Justine Ndraha karena memprotes kelalaian Pelayanan para oknum dimaksud ke Polda Riau.
Dalam kesempatan itu, pada saat situasi pertemuan berlangsung yang dihadiri oleh Ephorus, pihak pembawa acara yang dibawakan oleh Moiatulo Zai Dohare memberikan kesempatan kepada warga Jema’at untuk menyampaikan keluhannya maupun unek-unek yang belum diakomodir oleh BPMJ selama ini.
Secara bergantian, warga Jema’at yang diperkirakan belasan orang yang hadir dalam pertemuan itu, satu persatu menyampaikan keluhannya. Salah satu hal yang disampaikan adalah proses pemasangan Kanopi Gedung Gereja tidak sesuai Juklak, Juknis dan Standar Konstruksi Bangunan.

Proses pemasangan Kanopi Gereja, menurut pihak BPMJ, dalam hal ini Ketua BPMJ, Dalizatulo alias Ama Enjel Lase dan Sekretaris Jema’at BNKP, Temazisokhi alias Ama Alex Zega dalam penyampaiannya secara terbuka di Mimbar Gereja pada hari Minggu saat itu bahwa, Pelelangan Proyek Kanopi Gereja sudah melalui prosedur dengan diikuti 3 (tiga) Perusahaan Perseroan Terbatas dan atau PT.
Namun, setelah warga Jema’at memprotes hingga mendatangi pihak yang disebut Rekanan Kontraktor Pelaksana Pemasangan Kanopi, Lauren, justeru membantah keras apa yang telah disampaikan oleh Dalizatulo Lase Cs tentang proses Pemasangan Kanopi tersebut.
“Itu tidak benar! Pemasangan Kanopi itu benar kami yang melaksanakannya, namun tidak melalui proses Tender atau Lelang, karena kami bukan perusahaan Perseroan, jangankan PT, CV saja kami tak punya. Usaha kami di Bidang Pengelasan Rangka Baja ini hanya sekelas Bengkel saja, bukan PT atau CV,” kata Big Bos Bengkel HOSANA yang beralamat di jalan Harapan Raya (Sekarang Jalan Imam Munandar) Pekanbaru, Lauren kepada perwakilan warga Jema’at sekitar 4 orang tahun 2024 lalu.

Bahkan, Lauren mengungkap fakta mengejutkan warga Jema’at! Bahwa, pemasangan Kanopi tidak melalui Design oleh Konsultan profesional, juga tidak ada Rincian Anggaran Biaya (RAB), namun semuanya hanya dilakukan oleh Dalizatulo Lase dengan menunjuk ini dan itunya.
“Jujur, mencuatnya kasus ini bukan semata-mata karena kelalaian kami selaku Rekanan. Tetapi, ini kami lakukan atas perintah langsung dari Dali Lase, bagaimana bisa kami melaksanakan pemasangan Kanopi itu secara baik dan profesional, sedangkan syarat dasar saja tidak ada. Tugas kami sejak awal sudah selesai, namun uang kami belum dibayar lunas oleh Dali Lase sekitar Rp 35 juta lagi,” ungkap Lauren dengan tegas.
Lauren mengakui bahwa, setiap menelepon Dali Lase menagih sisa utang uang Rp 35 juta itu, tapi Dalizatulo tidak mau lagi merespon. Sedangkan tuntutan warga Jema’at kepada Rekanan Kontraktor atas Jaminan Kualitas Bangunan Kanopi agar tidak membahayakan warga Jema’at, justeru Surat Jaminan itu dibuat sendiri oleh Dalizatulo.
“Pokoknya semuanya atas perintah dan petunjuk dari Dali Lase saja, baik Surat Jaminan, mendatangkan pihak Dinas PU, menyuruh memperbaiki menambah sana – sini usai pemasangan Kanopi itu lalu diprotes oleh warga Jema’at. Harusnya yang disalahkan adalah Dalizatulo selaku Ketua BPMJ dan Bendahara nya karena semua ini atas instruksi mereka, kami hanya pelaksana,” sebut Lauren sambil menelepon Dalizatulo di hadapan warga Jema’at, namun Dali Lase menolak mengangkat Teleponnya.

Gejolak pemasangan Kanopi oleh BPMJ, sebagai bentuk pelampiasan amarah karena kekecewaan, puluhan warga Jema’at sempat memasang Spanduk bertuliskan PERINGATAN KERAS!! atas kelalaian BPMJ melanggar teknis konstruksi pemasangan Kanopi hingga mengambil sebagian Tanah Fasum yang bukan milik Gereja. Saat ini, halaman Kanopi itu telah digaris merah oleh warga karena melanggar batas Tanah Gereja.
Sedangkan isu Pemekaran Resort, dalam pertemuan itu terungkap langsung dari mulut pihak BPMJ melalui Sekretaris bahwa “itu hanya coba-coba” saja dan sesungguhnya tidak tahu dimana Pusat dan Induk BNKP Pekanbaru R-57 sebenarnya.
Atas pernyataan itu, membuat warga Jema’at geram. Usai acara dalam Gereja, warga Jema’at duduk berdiskusi bebas di sebelah Gereja, tepatnya di Rumah Jaga Gereja yang dihuni oleh Ama Afdol Halawa.
Dalam kekecewaan itu, sejumlah di antara warga Jema’at menyebut oknum BPMJ, Pendeta dan SNK tidak paham Tupoksinya, Bongak, Bodoh dan menjadi Aktor perusak Generasi masa depan warga Jema’at.
“Kita secara rame-rame mengutuk dan mengusir para pecundang ini, minimal dievaluasi, diganti supaya tidak menjadi biang dalam Gereja kita ini,” demikian seruan para warga Jema’at saat berdiskusi itu.
Terkait pertemuan dengan Ephorus, warga Jema’at merasa sangat senang dan bahagia serta Damai karena berhasil menyampaikan secara langsung semua unek-unek yang terjadi di Gereja BNKP Pekanbaru R-57 secara santun, dengan senang hati Ephorus menerima semua keluhan yang disampaikan warga Jema’at.
Bagian lain yang dipertanyakan warga Jema’at, terkait Laporan Keuangan (Uang Keluar Masuk, Dana Hibah dan Biaya Operasional), Pembangunan Gedung Gereja dan Gedung Sekolah Minggu (Surat Tanah dan Biaya Pembangunannya), Pelayanan dan termasuk masa Bakti Jabatan Pelayanan Pendeta serta SNK.
Saat tiba di Gedung Gereja, situasi dan perasaan warga Jema’at sedikit tegang, karena ternyata di lokasi sudah ada beberapa orang dari TNI, dari Koramil 06 Siak Hulu sekitar 3 orang dan POLRI dari Kamtibmas Desa Tanah Merah, Polsek Seliak Hulu 1 orang.
Saat diwawancarai langsung oleh Awak Media dari NadaViral.com, pihak petugas dari TNI mengaku diperintahkan langsung oleh Danramil 06 Siak Hulu, Kapten Yuniaro Zebua. Sedangkan Kamtibmas mengakui datang sendiri karena ditelepon langsung oleh Adi dari pihak Gereja.
Ephorus BNKP, Pdt. Otoriteit Dakhi, S.Th, M.Si dalam sambutannya, merespon dan menampung positif semua keluhan maupun aspirasi yang disampaikan oleh warga Jema’at hingga geleng-geleng Kepala.
Diduga, selama ini, aspirasi warga Jema’at tidak sampai ke Telinga Ephorus secara Lisan maupun secara Tertulis. Sedangkan Laporan BPMJ dan Pendeta, Majelis serta SNK, kemungkinan diterima langsung oleh Ephorus secara Tertulis dan dinilai 99,99 persen valid.
“Kedatangan saya di sini, murni untuk Pelayanan. Terkait wacana Pemekaran Resort, itu belum final dan baru saya sampaikan arahan hari ini. Terima kasih kepada seluruh warga Jema’at atas semua keluhan dan aspirasi yang disampaikan ke saya, semua saya tampung dan mengakomodir nya sebagai bahan pertimbangan kita ke depan,” kata Ephorus Otoriteit Dakhi.

Ephorus BNKP Periode 2022-2027 yang Terpilih melalui Persidangan Sinode BNKP ke-60 pada Tahun 2022 itu, menyampaikan beragam cerita pengalaman dalam Pelayanannya yang penuh dengan kesan baik tak terlupakan. Membuat warga Jema’at yang hadir merasa nyaman, senang dan bahagia mendengarnya dengan serius.
“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh Warga Jema’at BNKP Pekanbaru R-57 yang telah hadir serta menyampaikan seluruh unek-uneknya secara santun dan sejuk. Semoga persoalan ini dapat kita selesaikan secara bersama-sama. Tuhan Menyertai kita semua,” ucap Ephorus seraya meninggalkan lokasi Gedung Gereja menuju lokasi Jamuan Makan Siang.
Dari pantauan Jurnalis selaku Sosial Kontrol di lokasi acara sejak pagi hingga acara selesai, berjalan lancar, aman, nyaman dan kondusif. Semoga warga Jema’at dan terlebih-lebih petugas Pelayanan semakin soliditas dan memperkuat hubungan kekeluargaan di Aspek Kehidupan dan Keagamaan secara berdampingan dan berkesinambungan. ***
Penulis : Bomen
Kategori : Pelayanan Jema’at dan Pembangunan. Gereja
Foto : Doc./ Bomen dan Rio






















