LAHAT, (NVC) — Tujuan Pembangunan SPAL (Siring Pembuangan Air Limbah) melibatkan pengaliran air limbah dari sumbernya (rumah tangga, industri, dan lain-lain) melalui saluran (bisa berupa pipa atau konstruksi tanah) menuju tempat pengolahan atau pembuangan akhir.
Tujuannya adalah untuk mencegah pencemaran lingkungan dan menjaga kualitas air bersih. Spek material yang di gunakan Pasir bersih, Split dan Semen dan Pembesian menggunakan Besi 12, agar pengadukan tercampur dengan merata digunakan mesin Molen.
Pembangunan SPAL di Kelurahan Talang Jawa Selatan, RT 02-RW 01, Kecamatan Lahat Kota, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), diduga tidak sesuai Spesifikasi Teknis.
Diduga, material yang digunakan seperti Pasir dan Batu bercampur tanah (SIRTUNA),, Split Kotor, jarak Besi lebih dari 30cm dengan menggunakan Besi 10.
Setelah 80% pengerjaan, baru menggunakan Split besar-besar dan kotor. Pengadukan Semen secara manual dengan menggunakan tenaga Manusia dan tidak menggunakan Mesin Molen.
Salah satu Staf Kelurahan Talang Jawa Selatan yang tidak mau disebutkan Namanya, tanggal 08-07-2025 menjelaskan, “Pembangunan SPAL di Kelurahan kami tidak maksimal, material hanya menggunakan Sirtu dan Pasir kotor,” ungkap nta.
Namun, setelah pengerjaan hampir 80% baru menggunakan Split, sedangkan Split yang di gunakan besar-besar bercampur batu, pengadukan tidak menggunakan Molen tetapi menggunakan tenaga manusia atau manual.
“Sedangkan di dalam RAB, jelas menggunakan Mesin Molen. Bagian pembesian menggunakan Besi 10, sedangkan di RAB menggunakan Besi 12, harusnya Pelaksana proyek mengikuti sesuai RAB,” ujarnya.
Salah satu warga yang mengaku bernama Yudin, tgl 07-08-2025 mengungkapkan, SPAL tersebut baru dibangun, ini dikhawatirkan tidak akan bertahan lama, jarak Besi hampir 40 cm lebih, material Sirtuna dan Pasir kotor bercampur tanah seperti Pasir Pulau.
Sedangkan pasir pulau untuk dibangunan, tidak bisa digunakan karena tidak akan menyatu dengan Semen jika sirtu kotor, baru beberapa bulan bisa luntur, rapuh, retak memungkinkan bangunan cepat rusak.
“Pembanguan hampir selesai mencapai 80% pengerjaan baru ada material Split, tetapi bangunan sudah hampir selesai,” ujarnya.
Warga lainnya mengaku bernama Brahma, pada tgl 12-08-2025 mengungkapkan, biasanya pembangunan SPAL ada saluran dari rumah ke Siring, tinggi bangunan harus rata dengan tanah.
“Yang saya takutkan di saat musim hujan dikhawatirkan Sekolah TK nanti tergenang banjir, karena antara Tanah dan bangunan lebih tinggi bangunan SPAL, berkemungkinan SPAL menjadi kurang berfungsi,” jelasnya.
Willy Andreas, SE selaku Lurah Talang Jawa Selatan saat dikonfirmasi Awak Media via WhatsApp pada 19-07-2025 di Nomor 0813-6700-XXXX, sampai berita ini diterbitkan tidak memberikan jawaban apa pun.
Bahkan, justeru Willy Andreas memblokir Nomor WA Awak Media. Hingga Selasa 12-08-2025 Awak Media ini sudah berupaya melakukan konfirmasi di kantor Lurah Talang Jawa Selatan, namun belum bisa ditemui dan dikonfirmasi. (AIG)
Editor : Red






















