Gunungsitoli (NVC) – Jagat dunia otomotif di Kota Gunungsitoli mendadak gempar. Seorang warga bernama Petrus Gulo diketahui sebagai aktivis senior di kepulauan Nias, melayangkan protes keras dan kekecewaan mendalam terhadap pelayanan Bengkel CG yang berlokasi di Sifalaete.
Pasalnya, mobil yang baru saja selesai menjalani perawatan di bengkel tersebut justru berakhir tragis di derek akibat kondisi mesin yang mendadak kering oli.
Peristiwa ini bermula saat Petrus mendapati kendaraannya mengeluarkan hawa panas yang sangat menyengat, jauh melebihi suhu panas mesin normal. Tak lama kemudian, mobil tersebut mogok total di tengah jalan.
Saat dilakukan pengecekan, Petrus terkejut bukan main mendapati oli mesin dalam kondisi kosong, padahal baru hitungan hari keluar dari Bengkel CG.
Pembelaan Bengkel CG: “Sembilan Hari Harusnya Sudah Jim”
Menanggapi keluhan tersebut, pihak manajemen Bengkel CG berkilah dengan alasan teknis.
Mereka bersikeras bahwa oli telah diganti dengan benar. Pihak bengkel menyatakan bahwa jika benar mesin tidak diisi oli saat keluar dari bengkel, maka tidak perlu menunggu sembilan hari; mesin dipastikan sudah akan “Jim” (macet total) sesaat setelah dijalankan.
Tidak puas dengan jawaban lisan tersebut, Petrus Gulo kini menantang balik manajemen Bengkel CG untuk mengedepankan transparansi. Ia menuntut pihak bengkel menunjukkan bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan momen saat mekanik melakukan pengisian oli ke dalam mesin mobilnya.
“Saya ingin bukti nyata, bukan sekadar teori mesin. Tunjukkan CCTV-nya! Saya juga berhak tahu merek oli apa yang mereka isikan. Apakah kualitasnya sesuai dengan yang saya bayar atau tidak?” tegas Petrus dengan nada kecewa.
Gugat Tanggung Jawab Pasca-Servis
Selain menanggung kerugian mesin, Petrus juga harus merogoh kocek pribadi untuk biaya derek saat mobilnya mogok. Ia mempertanyakan standar layanan konsumen di Bengkel CG: Apakah tanggung jawab bengkel otomatis terputus begitu mobil keluar dari gerbang mereka?
“Ini soal perlindungan konsumen. Jika ada kesalahan penanganan, bengkel harus bertanggung jawab, bukan malah melempar argumen teknis untuk menghindar. Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi kepada orang lain,” tambah Petrus.
Kasus ini kini menjadi peringatan bagi seluruh pemilik kendaraan di Gunungsitoli untuk lebih waspada dan selalu meminta bukti kerja yang jelas dari penyedia jasa servis. Hingga berita ini diturunkan, masyarakat menunggu apakah Bengkel CG berani membuka rekaman CCTV mereka sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional.
(Jamil Mendrofa)






















